FaktaInspirasiota bengapria afrikastory

Kisah Tragis Ota Benga, Pria Afrika yang Dipamerkan di Kebun Binatang Amerika

Sekitar 100 tahun yang lalu, pemuda dari Afrika bernama Ota Benga dijemput paksa oleh pedagang budak dari Amerika.

Tidak dengan cara baik-baik, tapi diikat dan diseret dari tempat tinggalnya di pedalaman hutan Kongo. Sebelum pergi, keluarganya dihabisi dulu.

Saat itu ia segera menemui nasib baru di Amerika, untuk menjadi objek pameran di dalam kebun binatang bersama monyet-monyet.

Peristiwa penculikan orang kulit hitam untuk pameran sebenarnya bukan peristiwa langka di abad ke-19.

Saat tanah Afrika masih dikerumuni pemerintah kolonial untuk mencari budak untuk dipekerjakan, rasisme belum menjadi sumber persoalan besar di dunia.

Baca Juga: Jadi Observatorium Tertua, Cheomseongdae Berkontribusi pada Ilmu Astronomi Dunia

Ota Benga diambil sebagai budak dan dipaksa tinggal di kebun binatang Amerika

(foto: mind-blowingfact)

Oto Benga lahir di Hutan Ituri, Kongo dari suku Mbuti Pygmies. Orang-orang di desanya tinggal dalam kelompok-kelompok keluarga yang beranggota 15-20 orang, berpindah dari satu desa ke desa lain.

Atau dari satu kamp ke kamp lain sesuai musim dan kesempatan berburu. Tinggal di desa dan berburu di hutan merupakan satu-satunya cara hidup yang ia kenal.

Sampai tibalah suatu hari pedagang budak membelinya pada tahun 1904 seharga satu pon garam dan seikat kain.

Tidak pernah terbayangkan hari naas ketik keluarganya dibunuh, lalu ia diambil sebagai budak, tampil di Pameran Dunia St. Louis, dan dipaksa tinggal di Kebun Binatang Bronx.

Bukan sebagai pekerja yang merawat hewan, ia menjadi bahan pameran seperti hewan-hewan lainnya. Ia dikurung di dalam kandang bersama orangutan di hadapan kerumunan orang yang siap menertawakan.

Mulai membahayakan, Ota Benga dipindah ke rumah sakit jiwa khusus yatim piatu di New York

Kisah Tragis Ota Benga, Pria Afrika yang Dipamerkan di Kebun Binatang Amerika

(foto: newsadvance)

Tahun 1906, tempat tinggalnya berpindah ke kamar cadangan di American Museum of Natural History. Ia kembali ‘menghibur’ pengunjung dengan berpura-pura menjadi manusia setengah monyet yang mengoceh.

Ia ditampilkan sebagai bagian dari pameran New York Anthropological Society tentang evolusi manusia. Pendeta kulit hitam setempat sangat terkejut dengan pameran yang diadakan dan menuntut pembebasan. Tapi pameran terus berlanjut.

Pengunjung sempat memburu saat ia berjalan di luar halaman kebun binatang. Dipicu stres, ia menunjukkan perlawanan.

Ada sebuah insiden dengan penjaga kebun binatang di mana ia tampaknya mengancam dengan pisau dan dianggap membahayakan.

Karena itulah ia dipindahkan ke rumah sakit jiwa khusus yatim piatu di New York dan kemudian ke seminari Lynchburg, Virginia.

Baca Juga: Sempat Viral, Hewan Unik Sea Monkey Diciptakan dari Spesies Udang

Pihak yang mendapat keuntungan berupaya untuk menutup-nutupi kasus

Kisah Tragis Ota Benga, Pria Afrika yang Dipamerkan di Kebun Binatang Amerika

(foto: dartmouth)

Kisah nyata tentang pameran budak telah ditutup-tutupi dengan hati-hati oleh orang-orang yang mendapat keuntungan. Mulai dari pedagang budak dan penjaga kebun binatang yang diperiksa menyesuaikan cerita menurut minat dan nama baik sendiri.

Ada bantahan bahwa budak Afrika sebenarnya di dalam sangkar hanya tiga kali, setiap kali masuk itu atas kemauan sendiri dan untuk tujuan sendiri.

Peristiwa rasis yang menyangkut budak Afrika sudah terjadi tidak kurang dari satu abad lalu. Sejak puluhan tahun foto-fotonya jadi headline penting pada pemberitaan internasional.

Tapi baru ada pernyataan menyesal dari lembaga Wildlife Conservation Society (WCS) setelah dipicu peristiwa terkait rasisme lainnya.

Puluhan tahun wartawan Amerika, Pamela Newkirk tanpa henti menggali sumber-sumber utama yang terabaikan seperti arsip museum dan kliping koran. Newkirk menganggap penyesalan dan permintaan maaf saat itu dianggap terlambat.

Tidak bisa kembali pulang ke Kongo dan kehidupannya berakhir di Amerika

 Pria Afrika yang Dipamerkan di Kebun Binatang Amerika

(foto: peoplepill)

Akibat dari pameran Oto Benga lebih parah dari yang dibayangkan. Meski sudah ada upaya pemulihan, tetap saja menjadi trauma tersendiri.

Di Lynchburg, gigi runcingnya ditutup dan namanya diubah menjadi Otto Bingo. Di saat yang sama, komunitas Afrika-Amerika memiliki gagasan pasti tentang bagaimana seharusnya pria berusia 27 tahun melanjutkan hidup.

Ia sempat diberi pekerjaan di sebuah pabrik tembakau, punya teman baru, meskipun sulit untuk meyakinkan orang bahwa ia pernah dipamerkan di kebun binatang.

Ia masih rindu akan rumahnya di Kongo. Tapi ternyata jalan kembali pulang tidak pernah ketemu. Pecahnya Perang Dunia I menangguhkan sebagian besar lalu lintas Atlantik.

Tidak ada yang diizinkan masuk atau keluar Kongo saat itu. Merasa semakin tertekan dan putus asa, ia memilih mengakhiri hidup dengan menembak jantungnya sendiri dengan pistol curian.

BACA JUGA  Mengenal Pakaian Adat Aceh untuk Pria dan Wanita

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
/